Riset, Teknologi, Dan Pengabdian Masyarakat Jadi Kunci Program Pembangunan Desa


  Kamis, 10 Nopember 2016 Berita

SLEMANPerguruan tinggi diyakini dapat merumuskan langkah-langkah tepat untuk program pembangunan desa. Dilandasi asas Tri Darma Perguruan Tinggi, pemikiran dan karya intelektual berperan penting dalam pembangunan desa. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), Anwar Sanusi, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides), di Pusat Inovasi Agro Teknologi Universitas Gadjah Mada (PIAT UGM), Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/11).

“Riset, teknologi, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah kunci untuk menentukan program yang tepat untuk pembangunan desa. Hal itu dapat menjadi instrumen untuk memetakan persoalan-persoalan di desa. Kami meyakini perguruan tinggi memiliki kompetensi untuk duduk bersama memetakan hal itu,” ujarnya.

Anwar menambahkan, riset dan teknologi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dapat dikolaborasikan dengan program dari Kemendesa PDTT. Penerapan teknologi tepat guna harus berdampak untuk kesejahteraan masyarakat desa. Selain itu, program KKN Tematik yang dinilai sebagai inovasi pendidikan juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa memahami konsep pembangunan desa. Mahasiswa dapat mendengar langsung aspirasi masyarakat desa. “Melalui tiga hal tersebut, pemerintah dapat memilih dan memilah kebijakan dan kebutuhan yang sesuai untuk pemberdayaan masyarakat desa,” lanjutnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati mengatakan, sebagai perguruan tinggi yang memelopori program KKN, UGM kini telah memiliki 11 titik kampus satelit untuk mendukung pengembangan desa berbasis riset dan teknologi. Ia menambahkan, perjuangan yang harus dipikul dan dihadapi bersama adalah pengentasan kemiskinan di desa-desa.

“Kami mengembangkan technopark yang lokasinya dekat dengan desa-desa. Kampus di Bulaksumur adalah pusatnya. Lokasi lainnya diantaranya terdapat di Technopark Berbah, Technopark Nglanggeran, Geomaritime Science Park Parangtritis, dan Wanagama Forest,” ujar perempuan yang juga merupakan pakar geologi ini.

Sementara itu, Ketua Forum Pertides, Kadarsyah Suryadi, mengatakan, terdapat tiga hal utama dalam FGD ini. Pertama, inisiasi untuk merumuskan grand design mendukung program-program pembangunan desa. Kedua, komitmen untuk membina tiga sampai lima desa yang dapat berjalan sesuai program Kemendesa PDTT. Ketiga, monitoring dan evaluasi di desa-desa binaan yang berjalan secara periodik pada 2017 mendatang.

“Saya semakin optimistis bahwa perguruan tinggi sudah siap berkontribusi nyata untuk membangun desa. Perguruan Tinggi diharapkan dapat membuat sebuah grand design pembangunan desa. Tujuannya yakni dalam grand design tersebut ada sebuah haluan besar pembangunan perdesaan agar program di desa berjalan sistematik dan tepat guna,” ujar Kadarsyah yang merupakan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diskusi ini merupakan seri ketiga FGD Forum Pertides dengan topik utama Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan KKN. FGD pleno rencananya akan dilaksanakan di Jakarta pada Desember mendatang. Dua FGD sebelumnya telah dilaksanakan di UPN Veteran Jawa Timur pada Agustus lalu dan Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Oktober lalu.

 

Sleman, 10 November 2016

 

Biro Humas dan Kerjasama

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi

Fajar Tri Suprapto